Sunday, January 7, 2018

Film Susah Sinyal: Akhir Yang Bahagia

"Kalau di hotel ada wi-finya ?"
 "Ada Nona, bahkan ada passwordnya."
(Hahahaha, baru nonton trailernya saja sudah kocak)


Hallo sobat di tahun 2018, saya memutuskan untuk mengulas sebuah film dari makna atau esensi tema film tersebut.

I'm enough to review a film by its structure or effect, due to I don't have any capability or competency to do that. Then I am being freedom to express my feeling later. Struktur atau kontruksi pembuatan sebuah film sebaiknya direview oleh subyek yang lebih handal dan kompeten di bidangnya sehingga saya tidak mengurangi rasa hormat dan tetap menghormati para intelek muda dalam bidang perfilman. Sekian basa-basinya. 

Susah Sinyal dirilis menjelang akhir tahun dengan suguhan cerita drama komedi kehidupan keluarga yang berpusat pada hubungan ibu dan anak. Kisah tentang Ellen (Adinia Wirasti) sebagai ibu muda yang cantik dan pintar dengan karir yang bagus tetapi tidak harmonis dengan anak perempuan semata wayangnya yaitu Kiara (Auror Ribero). Keluar dari pekerjaan lama karena sudah mapan dan ingin mewujudkan mimpi sendiri dengan membuka firma hukum baru bersama temannya, Iwan (Ernest Prakasa) adalah cerita awal film. Kemudian berlanjut dengan adegan-adegan Kiara yang nakal di sekolah, manja dengan neneknya, bertengkar dengan ibunya, dan berusaha mandiri dengan mencari duit sendiri. 

Untuk mempererat hubungan ibu-anak ini, Ellen dan Kiara akhirnya disarankan untuk berlibur oleh Kepala Sekolah-nya Kiara. Sekilas mirip ide film Me vs Mami yang diperankan Irish Bella dan Cut Mini. Akhirnya berdasarkan testimoni Astrid (Valerie Thomas) dan ulasan di internet, Ellen memutuskan untuk berlibur di Suma. Hubungan harmonis antara Ellen dan putrinya, Kiara hampir terajut manis lagi setelah keduanya pulang berlibur di Sumba. Tapi ternyata drama masih berlanjut pada cerita Ellen tidak menghadiri audisi Kiara, dan Kiara melarikan diri ke Sumba. Setelah itu Ellen mengejarnya ke sana dan menceritakan penyebab ia jauh dari Kiara selama ini. At least, epilog film ini berupa adegan perayaan tahun baru yang juga menunjukkan kesuksesan Ellen untuk membuka lembaran baru dengan anaknya.
Scroll: Horizontal: Manusia pada umumnya akan menilai sesuatu dari apa yang dilihat, dipegang, didengar, dan dirasakan. Karena itulah tuntutan otak akan panca indera. 
Tidak mengherankan akan timbul rasa kekecewaan yang hakiki jika indera kita menangkap hal yang tidak sesuai. 
Akan tetapi selain menyerap informasi, otak akan bekerja melalui akal untuk menganalisa informasi. Itulah sebabnya orang yang berakal budi biasanya akan menerima saran, kritik, maupun masukan yang diberikan untuk dibandingkan dengan fakta yang telah diserap otak. 
Pada film Susah Sinyal, posisi Kiara tidaklah salah sebagai anak karena selama ini ia menyerap informasi yang belum benar.






A
Adegan komedi dari film ini sudah muncul sejak awal sebagai pembuka film selayaknya ciri khas film komedi Indonesia. Duet Melky-Yos (Arie Kriting-Abdur Arsyad) sukses mengocok perut. Istilah orang timur, "Baru lihat dorang pu muka saja kita su katawa". Artinya belum ngomong aja udah ketawa karena wajahnya yang lucu. Komedinya nampol banget. 

Secara komprehensif, film ini menggunakan alur maju. Tidak terdapat rekam jejak alur mundur pada film ini sehingga kita yang menonton tidak peru menguras pikiran untuk menyambungkan adegan yang masa sekarang dan masa lalu. Selain itu pada bagian liburan di Sumba, skenario cerita dibuat dengan sangat menyenangkan dengan tidak melibatkan drama berat terkecuali pada adegan Kiara dimarahi mamanya karena ingkar janji dengan pulang malam. Selebihnya cerita saat liburan penuh adegan komedi baik dari pemilik resort, pengusaha kaya (Chew Kinwah) yang sedang berlibur romantis dengan penyanyi dangdut, maupun pasangan baru nikah Rio (Ge Pamungkas) dan istrinya. 

Menurut saya pilihan Adinia Wirasti sebagai Ellen sangatlah tepat. Adinia Wirasti memainkan perannya dengan sangat apik. Keren. Seorang Adinia Wirasti memang selalu hebat dalam mendalami karakter. Saya rasa Ernest cocok dengannya sejak dipilih sebagai Ayu di film Cek Toko Sebelah. Ernest Prakasa sebagai penulis skenario (bersama istrinya) dan juga sutradara tidak memainkan peran penting seperti pada Cek Toko Sebelah. Posisinya hanya sebagai pemeran pembantu dengan tetap menghadirkan guyonan-guyonan seputar tradisi orang cina. Yang bukan orang cina pasti bakal gugling apa itu tradisi minum teh. 😜 "Makanya kawin sama orang cina", kata Ernest. 😛

Di bawah ini beberapa hal yang menjadi perhatian saya saat menonton film ini: 

PRO
Judul 
Judul Susah Sinyal secara eksplisit dinyatakan pada adegan liburan di Sumba. Ditambah dengan lawakan "Di sini sinyal susah. GSM. Geser Sedikit Mati."
Tetapi secara implisit, susah sinyal itu bermakna pada renggangnya hubungan antara ibu dan anak. Di era kecanggihan alat telekomunikasi, sinyal memegang peran penting dalam hidup manusia. Apabila sinyal susah karena faktor tertentu, dipastikan bahwa komunikasi akan terputus. Alat komunikasi hanya wadah, tetapi untuk menjalankannya perlu isyarat/perantara. 
Demikian pula dengan sebuah hubungan, untuk membuat hubungan yang baik diperlukan komunikasi yang intens. Agar komunikasi berjalan diperlukan isyarat atau kepekaan. Seorang anak yang terlahir dari ayah dan ibu adalah hal yang mutlak. Tetapi menjaga hubungan tersebut harmonis sangatlah relatif, butuh isyarat/kepekaan masing-masing pihak. 

Lokasi 
Saya yakin pasti sobat setuju dengan pendapat saya bahwa destinasi liburan dalam film Susah Sinyal yang di-shoot di daerah Sumba adalah daerah yang indah. Pemilihan daerah oleh Ernest cukup anti-mainstream. Bukan Raja Ampat, Labuhan Rajo, Kuta, atau Belitung melainkan daerah Sumba. Dia benar-benar memberikan sekian menit untuk mengeksplor daerah tersebut dalam film. Ada pantai, padang pasir (savana), kemudian tebing, dan air terjun. Thanks to you Ernest. It does well for us. Sekian menit yang menakjubkan karena memandang pesona alam Indonesia bagian timur, Pulau Sumba. 


Sarat Makna 
Nah ini yang menjadi perhatian penuh saya untuk mencoba memahami pesan apa yang ingin disampaikan Ernest lewat film ini. Terlepas dari makna sinyal (isyarat) adalah poin penting dalam komunikasi, film konklusif ini dari sudut padang saya bermakna sebagai berikut: 
- Setiap orang punya masa lalu. 
  Untuk masa sekarang yang dilalui, ada cerita di masa lalu. Terkadang masa lalu membentuk pribadi kita, tetapi juga tidak. Sangat relatif. Jangan biarkan masa lalu membentuk kita menjadi pribadi yang menyimpang atau tidak baik. Belajar dari masa lalu untuk menjadi lebih baik. Terbuka dan terima masa lalu, lalu menatap masa depan dengan cara yang lebih baik agar orang-orang di masa depan tidak menjadi korban masa lalu kita. Belajar dari adegan klimaks film pada percakapan dramatis antara Ellen dan Kiara.

- Orang tua sebaiknya belajar menerima dirinya sebagai orang tua.
   Maksudnya adalah saat sudah memiliki anak, hal yang umum terjadi di kota besar dengan berbagai kesibukannya, orang tua lupa bahwa dia adalah orang tua yang memiliki peran penting dalam perkembangan mental anak. Simak cuplikan saat Derren (Eddy Meijer) bersaksi di sidang orang tuanya Cassandra (Gissela Anastasia).

CONS
Lighting
Mungkin sebagian besar pembaca tidak setuju, tapi saya rasa pada saat babak liburan dimainkan, saya merasa gambarnya agak dark

Anti klimaks
Adegan drama di film Susah Sinyal agak anti klimaks menurut saya. Berbeda dengan Cek Toko Sebelah yang skenarionya sangat rapi dari prolog, konflik, klimaks, anti klimaks, epilog. Dengan drama yang disusun serapi itu, Cek Toko Sebelah sukses membuat penonton menitikkan air mata. Saya beneran nangis loh. Susah Sinyal agak berbeda karena alur dramanya terlihat agak turun naik sehingga saya sendiri sulit menentukan klimaksnya pada bagian mana. Padahal konsep dramanya bagus. Natural. Konflik realitas. 


Demikian review dari saya. Overall, film ini adalah bukti kemajuan seorang Ernest Praksa di bidang perfilman sebagai sutradara. Ia semakin jago mengemas konflik dengan komedia. Ditunggu karyamu selanjutnya, Koh Ernest.

Rating menurut SI: 3,5/5


fullstop



Baca Juga

No comments:

Post a Comment

...